<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-222543039276740097</id><updated>2012-02-16T13:07:49.549-08:00</updated><title type='text'>zee blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suzana-zee.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzana-zee.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>suzana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01075528895967983449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222543039276740097.post-132882736436930906</id><published>2008-05-08T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T09:18:56.184-07:00</updated><title type='text'>PERBANDINGAN POLITIK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PERBANDINGAN POLITIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILIHAN UMUM &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;AUSTRALIA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sangat sadar akan asas demokrasi, yaitu diwujudkan dengan penyelenggaraan pemilihan umum. Dalam itulah rakyat diajak memasuki alam demokrasi sedemikian konfleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Pemilihan Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemilu di Australia dilaksanakan untuk memilih wakil-wakil rakyat, baik di tingkat federal/nasional maupun di tingkat negara bagian dan teritori. Pada tingkat federal, sistem majelis dan keangotaanya sudah diatur berdasarkan konstitusi. Majelis bersifat dua kamar, yaitu majelis rendah dan senat. Majelis Rendah yang bernama &lt;i style=""&gt;House of Representatives&lt;/i&gt;, beranggota 148 orang, yang ditarik dari masing-masing negara bagian secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan ketentuan konstitusi, pemilu bagi anggota majelis rendah normalnya dilaksanakan 3 tahun sekali; tetapi dapat dilakukan pemilu sebelum habis masa bakti 3 tahunan, bila mayoritas anggota parlemen menghendakinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Keanggotaan majelis tinggi federal atau Senat juga sudah ditetapkan oleh konstitusi, yaitu setengah dari jumlah anggota majelis rendah. Sebagai majelis bagi negara bagian, maka tanpa mempertimbangkan jumlah penduduk, setiap negara bagian memiliki jumlah senator yang sama, yaitu masing-masing 12 senator. Kecuali bagi teritori NT dan ACT, yang masing-masing dua senator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan konstitusi, setengah dari seluruh 12 senator negara-negara bagian dan seluruh senator dari teritori (NT dan ACT) dipilih untuk masa bakti 3 tahun. Sedangkan enam senator lainya dipilih setiap 6 tahun sekali, sehingga terdapat setengah dari seluruh senator yang pensiun di tengah satu periode masa bakti Senat. Oleh karena itu ada dua kali masa pemilu bagi pengisian kursi senator, yaitu masa rakyat di masing-masing negara bagian harus memilih seluruh 12 senatornya, yang disebut dengan “ &lt;i style=""&gt;full senat&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;election&lt;/i&gt;s” dan masa ketika rakyat di masing-masing dinegara bagian hanya memilih enam senator, yaitu disebut sebagai &lt;i style=""&gt;” half-senat poll/ election “&lt;/i&gt; . kedua hal ini perlu ditekankan , karena keadaan itu akan berdampak pada penerapan jumlah kuota suara yang diperlukan calon-calon senator untuk mengisi jabatan tersebut. Pada umumnya, jumlah kuota suara yang diperlukan bagi seorang calon senator untuk menduduki kursi senat ketika full senat elections adalah 7,7 % sedangkan pada masa half-senat elections, jumlah quota suara yang diperlukan lebih besar lagi, yaitu mencapai kira-kira 14,3%.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; majelis tinggi negara bagian dinamakan Dewan Legislatif (legislatif council) ; sementara majelis rendah negara bagian dan teritori mempunyai nama yang sedikit berbeda. Kecuali majelis rendah di &lt;st1:state st="on"&gt;South Australia&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berna House of Assembly, seluruh majelis rendah negara bagian dan teritori disebut dengan Legislatif Assembly. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jumlah anggota yang dipilih dan masa bakti maksimum parlemen di masing-masing negara bagian dan teritori juga berbeda. Majelis rendah New South Wales beranggota 99 orang, dengan masa bakti maksimum 4 tahun; sedangkan majelis tingginya mempunyai 45 orang anggota, dengan masa bakti maksimum 3 kali masa bakti majelis rendahnya. Majelis rendah Victoria memilih 88 anggotanya untuk masa bakti 4 tahun, sedangkan majelis tinggi beranggotakan 44 orang dengan masa bakti dua kali masa bakti majelis rendahnya. Sejumlah 47 anggota majelis rendah South Australia dipilih untuk masa bakti 3-4 tahun dan majelis tinggi memilih 22 anggota untuk masa bakti 6-8 tahun. Di negara bagian Western Australia, majelis tingginya memilih 34 anggota untuk mengisi masa bakti 6 tahun, sementra 57 anggota majelis rendahnya dipilih setiap tiga tahun sekali. Majelis rendah Tasmania memilh 33 anggota untuk masa bakti 4 tahun, sedangkan majelis tingginya memilih 19 anggota untuk masa bakti 6 tahun sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemilu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;QueenSland&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, NT dan ACT diselenggarakan hanya untuk memilih anggota-anggota majelis rendah. Majelis rendah QueenSland memilih 89 anggota setiap 3 tahun sekali, dan NT memilih 25 anggota majelis rendah setiap 4 tahun sekali. Sedangkan pemilihan majelis rendah ACT,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang baru diberlakukan pada 1989, diselenggarakan untuk memilih 17 anggota yang mempunyai masa bakti maksimum 3 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam kasus tertentu, pemilu bagi anggota majelis tinggi negara bagian dirumitkan dengan penerapan ketentuan yang sama dengan pemilu bagi anggota senator ( ditingkat federal). Penerapan ketentuan tersebut berlaku bagi anggota majelis tinggi dinegara bagian &lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Western Australia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pemilu bagi 44 anggota majelis tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; dilaksanakan 22 daerah pemilihan, yang masing-masing daerah pemilihan memilih 2 anggota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Secara implisit, telah diterangkan bahwa penerapan sistem majelis, baik ditingkat federal, bagian maupun teritori, mempunayi dampak yang luas dalam perwakilan politik anggota-anggota parlemen. Sistem perwakilan politik bagi anggota-anggota parlemen di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak hanya menggunakan satu sistem perwakilan, titapi menggunakan semua sistem perwakilan yang ada dipergunakan. Sistem proporsional refresentation atau perwakilian berimbang, dan sistem distrik di Australia umumnya dikenal dengan sebutan Sistem referensial (Prefensials), karena metode pemungutan suaranya berbeda dengan sistem perwakilan berimbang- digunakan bagi para wakil rakyat diparlemen. Sistem perwakilan berimbang, yang memungkinkan disetiap daerah pemilihan memiliki lebih dari satu anggota parlemen atau yang dikenal dengan sistem multi-member constituency, diberlakukan dalam pemilihan senator ditingkat federal. Demikian halnya dengan pemilihan anggota majelis tinggi di negara-negara bagian; New South wales, Victoria, South Autralia dan western serta pemilihan anggota-anggota majelis rendah di negara bagaian ; Tasmania dan ACT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara sistem preperensial atau sistem distrik yang menganut sistem single-member constituencies dimana setiap anggota parlemen hanya memiliki satu daerah pemilihan, berlaku bagi pemilihan anggota majelis rendah federal (House of representatives), dan sebagain besar peerlemen negara bagian. Negara-negara bagian, seperti ; New South wales, Victorian Queensland, western australia, south australian dan teritori NT, menganut sistem ini untuk memilih anggota-anggota majelis rendahnya. Sistem ini dugunakan utnuk memilih anggota-anggota majelis tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Pemungutan Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sejak federalisme, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; telah mencoba beberapa metode pemungutan suara dalam setiap pemilu, baik ditingkat federal maupun dinegara bagian dan teritori. Penerapan metode-metode tersebut diterapkan secara demokratis oleh parlemen, yang umumnya didominasi oelh partai-partai utama, Partai Buruh dan Koalisi, Partai Liberal dan Partai Nasional. Penrapan metode-metode pemungutan suara, juga dilandasi keinginan dari masing-masing partai untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Dari metode yang diterapkan itu memperoleh kursi parlemen yang sebanyak-banyaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Secara umum, ada tiga metode pemungutasn suara yang diterapkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, yaitu sistem plurality, referensial dan perwakilan berimbang. Metode plurality atau yang dikenal dengansisten The First-Past-The Post, pernah diretapkan dengan pemilihan anggota majelis rendah federal hanya sampai 1918. Metode ini dipandang sebagai cara perhitungan suara yang sangat sederhana, dimana seorang calon yang memperoleh suara mayoritas secara otomatis terpilih menjadi anggota parlemen. Karena itu pula sistem tersebut dikenal juga dengan sebutan “Mayoritas sederhana”. Metode pemungutan prepensial dengan variasinya diterapkan diberbagai daerah pemilihan yang mengunakan single member constituencey. Anggota-anggota parlemen Australia yang dipilih melalui sistem ini adalah anggota majelis rendah federal, majelis rendah di negara-negara bagian New South Wales, Victoria, Queensland, South Australia, Tasmania, Teritori NT dan majelis tinggi negara bagian Victoria. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menurut Solomon&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sistem pemungutan suara preferensial yang diterapkan sejak 1919, cenderung dipakai untuk menggoyahkan Partai Buruh&lt;sup&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;. Metode ini diperkenalkan oleh penentang partai buruh untuk memajukan kepentingan mitra-mitranya dalam koalisi menentang Partai Buruh. Dalam pandangan mereka, terutama tokoh-tokoh Partai Liberal, sistem The Fisrt-past-The Post dapat lebih mengembangkan sistem dua partai, dimana kekehesian Partai Buruh akan selalu menguasai kursi mayoritas dalam parlemen federal. Partai Buruh, kemudian menghasilkan adanya kombinasi antara sistem The First-Past-The Post dengan sistem Preferensi yang disebut sebagai sistem optional preferential atau preferensial opsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode perwakilan berimbang dipakai untuk pertama kalinya dalam pemilihan senat federal pada 1949. Metode ini diadopsi dari pemilihan majelis Rendah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sudah dipakai sejak 1909.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Metode pemungutan suara dipandang lebih demokratis daripada sistem pemungutan suara lainnya, karena sistem ini lebih mencerminkan secara langsung keinginan rakyat dalam memilih wakil-wakil mereka.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dengan metode ini kelompok pemilih minoritas akan mampu memilih sejumlah minoritas wakilnya. Hasil yang penting dari penggunaan metode Perwakilan Berimbang ini adalah ia memberikan peluang bagi partai-partai kecil dan kelompok independen untuk memperoleh kursi diparlemen. Hal ini tercermin dari terwakilinya partai-partai kecil, seperti Partai Buruh Demokratis ( Democratic Labour Party- DLP ) dan Partai Demokrasi Australia ( Australian Democrat – AD ) dalam senat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Prosedur Perhitungan Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam prosedur perhitungan suara dari beberapa model pemungutan suara yang berlaku (dan atau yang pernah diberlakukan) di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Hal ini mencakup model-model pemungutan suara dalam sistem &lt;i style=""&gt;plurality&lt;/i&gt;, preferensial dan preferensial opsi, serta perwakilan berimbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Plurality &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Plurality atau the first-past-the post atau juga dikenal dengan sebutan “mayoritas sederhana”, sebagai sistem yang agak sederhana digunakan dalam pemilu-pemilu di Inggris, AS, Kanada, Selandia Baru, dan bahkan Afrika Selatan. Sejak 1902 sampai 1918, sistem ini dipakai di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk memilih anggota-anggota majelis rendah federal. Persyaratannya tidaklah sulit rumit, di mana pemilih hanya membubuhkan tanda “X” pada calon pilihannya, dan hasilnya segera dapat diketahui. Calon dengan suara terbanyak adalah pemenangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Preferensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; dua varian dalam sistem preferensial yaitu : preferensial dan preferensial opsi. Metode preferensial biasanya digunakan disemua daerah pemilihan yang menggunakan single member constituncy sedangkan metode preferensial opsi digunakan dibeberapa daerah yang mengunaka perwakilan single member, seperti di Majelis Tinggi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tasmania, dan majelis Rendah New South Wales; dah bahkan daerah yang menggunakan perwakilan multi-member, seperti pemilihan Majelis Tinggi New South Wales, Majelis Tinggi South Australia, dan majelis Rendah Tasmania.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Preferensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode ini berusaha menentang sistem mayoritas sederhana, yang dalam banyak kasus mengabaikan kepentingan suara mayoritas, sebagaimana yang terjadi dlaam perhitungan suara the first –past-the post. Tujuan diterpakannya metode ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi para pemilih pada suatu serial pemilihan : bila calon yang diinginkan pemilih hanya memperoleh jumlah suara kecil maka pemilih berkesempatan untuk membuat pilihan kedua dst. Metode ini memungkinkan calon-calon kurang dikenal dalam masyarakat dapat terpilih, sekalipun kurang disukai oleh sebagian besar pemilih.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal ini berbeda dengan sistem the first – past&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- the post, di mana hanya calon-calon yang populer yang sering terpilih. Oleh karena itu , metode ini mempunyai dua persyaratan. &lt;i style=""&gt;Pertama,&lt;/i&gt; calon harus memenangkan 50% + 1 suara pemilih untuk memenangkan pemilihan dan &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, para pemilih dipersyaratkan untuk memberikan preferensinya, dengan cara memberikan peringkat bagi semua calon yang ada, sesuai dengan keinginannya (preferensi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Preferensial Opsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode perhitungan suara ini adalah pengembangan dalam metode preferensial. Metode ini merupakan Kebijakan Partai Buruh, yang kecewa dengan hasil pemilu di beberapa daerah pemilihan yang menggunakan metode preferensial. Tujuan Partai Buruh menerapkan yaitu untuk menutup kemungkinan bagi terpilihnya calon-calon dari partai lain, terutama dari saingan-saingan utamanya : Koalisi Partai Liberal dan Partai Nasional. Metode ini pernah digunakan beberapa kali dalam pemilu Majelis Rendah di Queensland, Westrn &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sekarang metode ini dipakai untuk memilih kedua majelis di &lt;st1:state st="on"&gt;New  South Wales&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;, serta majelis Tinggi South &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Semua persyaratan yang diperlukan sama saperti yang adala dalam metode prefernsi umum. Perbedaannya hanya satu, seorang pemilih dipersyaratkan untuk tidak membuat prefernsi kepada seluruh calon yang maju dalam pemilu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Perwakilan Berimbang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Perwakilan berimbang diterapkan pada daerah-daerah pemilihan yang menggunakan sistem multi-member constituency di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mana jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan ditetapkan berdasarkan aturan tertentu. Metode ini cenderung mewakili partai atau kelompok, dan bukan individu, dalam parlemen, berdasarkan proporsi suara yang diperolehnya dalam pemilu utnuk alasan tersebut metode ini sangat disukai oleh partai-partai kecil.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun meskipun demikian metode ini juga memiliki kekurangan yaitu : sistem ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat memisahkan anggota parlemen dari daerah pemilihannya, karena mereka terpilih berdasarkan daftar partainya dan sistem ini cenderung memperbesar kekuatan eksekutif negara bagian atas beban organisasi-organisasi lokal partai, karena penyeleksian anggota tim partai (calon yang diajukan) biasanya dilakukan oleh sentral organisasi partainya.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA POST SOEHARTO DI &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Masa transisi yang sedang di alami oleh pemerintah dan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sekarang ini menimbulkan berbagai masalah yang harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segera ditanggulangi. Kehendak untuk melakukan reformasi dan demokratisasi yang sangat kuatyang tidak di ikuti oleh kesadaran untuk melakukan reformasi yang tidak menciptakan krisis baru akan mengakibatkan reformasi itu seandiri menjadi sebuah masalah. Apalagi pada saat sekarang ini kita sedang mengalami “EUPHORIA”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik, karena terlepas dari belenggu kekangan politik yang diciptakan oleh rezim pemerintahan Soeharto, yang berlangsung selama tiga dekade lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemerintahan Presiden Habibie adalah pemerintahan yang sangat rapuh, karena legitimasi kekuasaan kepresidenan Habibie dipermasalahkan oleh sementara kalangan, terutama mereka yang tidak senang dengan kehadiran Habibie dalam panggung politik nasional. Di samping itu, masyarakat masih menunggu, apakah pemerintahan Habibie msmpu mengatasi masalah ekonomi yang sudah tinggal puing-puingnya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Untuk mengatasi krisis legitimasi kekuasaan itu, banyak kalangan yang menghendaki diadakannya pemilihan umum secepatnya. Nampaknya, mereka menyadari betapa kompleks permasalahan yang di hadapi dalam mempersiapkan sebuah pemilihan umum, terutama yang menyangkut sejumlah peraturan perundangan, yang merupakan produk pemerintah Soeharta, yang dianggap tidak memiliki elemen demokrasi yang kuat, bahkan mengandung elemen otoritarianisme.Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: Bagamana menyelenggarakan pemilihan umum secepatnya kalau perangkat peraturan lama tersebut masih berlaku dan belum diganti dengan peraturan penyelenggaraan yang baru, yang sesuai dengan semangat dan jiwa demokratisasi dan akan menjadi landasan kehidupan demokrasi politik dimasa sekarang dan masa – masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PARAMETER PEMILIHAN UMUM YANG AKAN DATANG &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; beberapa yang dijadikan parameter bagi pemilihan umum 1999,&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pertama, Pemilihan Umum yang akan datang haruslah diselenggarakan dengan cara yang demokratik, sehingga memberi peluang bagi semua partai dan caleg (calon legislative) yang terlibat untuk berkompetisi secara fair dan jujur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kedua, Pemilihan Umum yang akan datang haruslah menciptakan MPR atau DPR, DPRD Tingkat I, DPRD Tingkat II yang lebih baik, lebih mandiri dan memiliki akon-tabilitas politik yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ketiga, derajat keterwakilan. Maksudnya,bahwa anggota MPR/DPR yang akan dibentuk melalui Pemilihan Umum yang akan datang haruslah memeiliki keseimbangan perwakilan, baik antara wakil masyarakat di Jawa ataupun diluar Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Keempat, Tuntas. Artinya, UU Pemilihan Umum yang akan datang haruslah bersifat menyeluruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILU : PROPORSIONAL REPRESENTATION VERSUS SISTEM DISTRIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam ilmu politik, sistem pemilihan umum diartikan sebagai satu kumpulan metode atau cara warga masyarakat memilih para wakil mereka (Lijphart, 1995). Hal-hal yang sangat perlu mendapat perhatian dalam pemilihan adalah apa yang disebut sebagai “&lt;i style=""&gt;electoral formula&lt;/i&gt;”, yaitu apakah akan menggunakan sistem pluralitas yang di Indonesia banyak disebut sebagai sistem distrik yang sebagian besar kalangan ilmuwan politik menyebutnya sebagai &lt;i style=""&gt;Plurality System&lt;/i&gt;, ataukah sistem &lt;i style=""&gt;proportional representation&lt;/i&gt; dengan berbagai macam variasinya, seperti misalnya sistem &lt;i style=""&gt;sisa terbanyak, single transferable vote, single non-transferable vote, d’Hondt Rule, sainte lague,&lt;/i&gt; dan lain-lain. Electoral formula menetukan alokasi kursi yang akan memberikan kepada masing-masing partai yang bersaing (Lijphart, 1984; 1985; Taagepera and Shugart, 1989). Sistem &lt;i style=""&gt;Proportional representation&lt;/i&gt; (PR) merupakan sistem pemilihan yang paling banyak dipergunakan oleh negara-negara yang pemilihan umumnya berlangsung secara demokratik dan kompetitif. Sistem ini memperlihatkan gejala yang sangat menarik, di mana proporsi kursi yang dimenangkan oleh sebuah partai politik dalam sebuah wilayah pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi suara yang diperoleh partai tersebut dalam pemilihannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Pemilihan Umum di Australia menggunakan metode Sistem Preferensial dan Sistem Perwakilan Berimbang. Sistem Preferensial ada dua varian yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Preferensial, metode ini berusaha menentang sistem mayoritas sederhana, yang dalam banyak kasus mengabaikan kepentingan suara mayoritas, sebagaimana yang terjadi dlaam perhitungan suara the first –past-the post. Sedangkan preferensial opsi, metode perhitungan suara ini adalah pengembangan dalam metode preferensial. Metode ini merupakan Kebijakan Partai Buruh, yang kecewa dengan hasil pemilu di beberapa daerah pemilihan yang menggunakan metode preferensial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dan sistem Pemilihan Umum di Indonesia menggunakan Proportional Representation System dan Plurality System (SD). Jika dibandingkan kedua sistem pemilihan ini menjadi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PR   System&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Plurality   System(SD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;1.Peranan   Partai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kuat   sekali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sangat   Lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2.Distorsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;3.Kedekatan   calon dgn pemilih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;4.Akontabilitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 23.35pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;5.Money   Politics&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;6.Kualitas   Legislatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sama   &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Dengan&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;SD&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sama   dengan PR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; David Solomon, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Australia&lt;/i&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i style=""&gt;’s Government and parliament&lt;/i&gt; (edisi ke 7: &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Melbourne&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Nelson.1988) halm 134.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Scott Bennett, &lt;i style=""&gt;Affairs of State: Politics In The Australian State and Terrirtories&lt;/i&gt; ( Sydney Allen and Unwin, 1992) halm 156.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Solomon.op.cit hal 136.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Solomo Op.Cit hal 34&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Don Aikin, Brian Jinks, John Warhurst, Australian Political Institution ( edisi Ke-4; Melbourne; Longman Cheshire, 1989), hal. 1150.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Aitkin, Jinks,Warhurst, &lt;i style=""&gt;Ibid&lt;/i&gt;, hal 151&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Saya memperkirakan, pemilihan umum yang akan datang akan diselenggarakan paling cepat pertengahan 1999. Karena sidang umum Istimewa MPR untuk membicarakan Tap MPR tentang pemilihan umum sudah diputuskan pada akhir Desember 1998, atau awal 1999. Mengingat penyiapan perangkat UU dan kelengkapan administrasi dibutuhkan waktu, maka sangat logis kalau diperkirakan Pemilihan Umum yang akan datang berlangsung pada pertengahan 1999.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222543039276740097-132882736436930906?l=suzana-zee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzana-zee.blogspot.com/feeds/132882736436930906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222543039276740097&amp;postID=132882736436930906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/132882736436930906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/132882736436930906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzana-zee.blogspot.com/2008/05/perbandingan-politik_560.html' title='PERBANDINGAN POLITIK'/><author><name>suzana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01075528895967983449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222543039276740097.post-2324179651232297103</id><published>2008-05-08T09:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T09:09:01.881-07:00</updated><title type='text'>PERBANDINGAN POLITIK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PERBANDINGAN POLITIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILIHAN UMUM &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;AUSTRALIA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sangat sadar akan asas demokrasi, yaitu diwujudkan dengan penyelenggaraan pemilihan umum. Dalam itulah rakyat diajak memasuki alam demokrasi sedemikian konfleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Pemilihan Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemilu di Australia dilaksanakan untuk memilih wakil-wakil rakyat, baik di tingkat federal/nasional maupun di tingkat negara bagian dan teritori. Pada tingkat federal, sistem majelis dan keangotaanya sudah diatur berdasarkan konstitusi. Majelis bersifat dua kamar, yaitu majelis rendah dan senat. Majelis Rendah yang bernama &lt;i style=""&gt;House of Representatives&lt;/i&gt;, beranggota 148 orang, yang ditarik dari masing-masing negara bagian secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan ketentuan konstitusi, pemilu bagi anggota majelis rendah normalnya dilaksanakan 3 tahun sekali; tetapi dapat dilakukan pemilu sebelum habis masa bakti 3 tahunan, bila mayoritas anggota parlemen menghendakinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Keanggotaan majelis tinggi federal atau Senat juga sudah ditetapkan oleh konstitusi, yaitu setengah dari jumlah anggota majelis rendah. Sebagai majelis bagi negara bagian, maka tanpa mempertimbangkan jumlah penduduk, setiap negara bagian memiliki jumlah senator yang sama, yaitu masing-masing 12 senator. Kecuali bagi teritori NT dan ACT, yang masing-masing dua senator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan konstitusi, setengah dari seluruh 12 senator negara-negara bagian dan seluruh senator dari teritori (NT dan ACT) dipilih untuk masa bakti 3 tahun. Sedangkan enam senator lainya dipilih setiap 6 tahun sekali, sehingga terdapat setengah dari seluruh senator yang pensiun di tengah satu periode masa bakti Senat. Oleh karena itu ada dua kali masa pemilu bagi pengisian kursi senator, yaitu masa rakyat di masing-masing negara bagian harus memilih seluruh 12 senatornya, yang disebut dengan “ &lt;i style=""&gt;full senat&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;election&lt;/i&gt;s” dan masa ketika rakyat di masing-masing dinegara bagian hanya memilih enam senator, yaitu disebut sebagai &lt;i style=""&gt;” half-senat poll/ election “&lt;/i&gt; . kedua hal ini perlu ditekankan , karena keadaan itu akan berdampak pada penerapan jumlah kuota suara yang diperlukan calon-calon senator untuk mengisi jabatan tersebut. Pada umumnya, jumlah kuota suara yang diperlukan bagi seorang calon senator untuk menduduki kursi senat ketika full senat elections adalah 7,7 % sedangkan pada masa half-senat elections, jumlah quota suara yang diperlukan lebih besar lagi, yaitu mencapai kira-kira 14,3%.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; majelis tinggi negara bagian dinamakan Dewan Legislatif (legislatif council) ; sementara majelis rendah negara bagian dan teritori mempunyai nama yang sedikit berbeda. Kecuali majelis rendah di &lt;st1:state st="on"&gt;South Australia&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berna House of Assembly, seluruh majelis rendah negara bagian dan teritori disebut dengan Legislatif Assembly. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jumlah anggota yang dipilih dan masa bakti maksimum parlemen di masing-masing negara bagian dan teritori juga berbeda. Majelis rendah New South Wales beranggota 99 orang, dengan masa bakti maksimum 4 tahun; sedangkan majelis tingginya mempunyai 45 orang anggota, dengan masa bakti maksimum 3 kali masa bakti majelis rendahnya. Majelis rendah Victoria memilih 88 anggotanya untuk masa bakti 4 tahun, sedangkan majelis tinggi beranggotakan 44 orang dengan masa bakti dua kali masa bakti majelis rendahnya. Sejumlah 47 anggota majelis rendah South Australia dipilih untuk masa bakti 3-4 tahun dan majelis tinggi memilih 22 anggota untuk masa bakti 6-8 tahun. Di negara bagian Western Australia, majelis tingginya memilih 34 anggota untuk mengisi masa bakti 6 tahun, sementra 57 anggota majelis rendahnya dipilih setiap tiga tahun sekali. Majelis rendah Tasmania memilh 33 anggota untuk masa bakti 4 tahun, sedangkan majelis tingginya memilih 19 anggota untuk masa bakti 6 tahun sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemilu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;QueenSland&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, NT dan ACT diselenggarakan hanya untuk memilih anggota-anggota majelis rendah. Majelis rendah QueenSland memilih 89 anggota setiap 3 tahun sekali, dan NT memilih 25 anggota majelis rendah setiap 4 tahun sekali. Sedangkan pemilihan majelis rendah ACT,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang baru diberlakukan pada 1989, diselenggarakan untuk memilih 17 anggota yang mempunyai masa bakti maksimum 3 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam kasus tertentu, pemilu bagi anggota majelis tinggi negara bagian dirumitkan dengan penerapan ketentuan yang sama dengan pemilu bagi anggota senator ( ditingkat federal). Penerapan ketentuan tersebut berlaku bagi anggota majelis tinggi dinegara bagian &lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Western Australia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pemilu bagi 44 anggota majelis tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; dilaksanakan 22 daerah pemilihan, yang masing-masing daerah pemilihan memilih 2 anggota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Secara implisit, telah diterangkan bahwa penerapan sistem majelis, baik ditingkat federal, bagian maupun teritori, mempunayi dampak yang luas dalam perwakilan politik anggota-anggota parlemen. Sistem perwakilan politik bagi anggota-anggota parlemen di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak hanya menggunakan satu sistem perwakilan, titapi menggunakan semua sistem perwakilan yang ada dipergunakan. Sistem proporsional refresentation atau perwakilian berimbang, dan sistem distrik di Australia umumnya dikenal dengan sebutan Sistem referensial (Prefensials), karena metode pemungutan suaranya berbeda dengan sistem perwakilan berimbang- digunakan bagi para wakil rakyat diparlemen. Sistem perwakilan berimbang, yang memungkinkan disetiap daerah pemilihan memiliki lebih dari satu anggota parlemen atau yang dikenal dengan sistem multi-member constituency, diberlakukan dalam pemilihan senator ditingkat federal. Demikian halnya dengan pemilihan anggota majelis tinggi di negara-negara bagian; New South wales, Victoria, South Autralia dan western serta pemilihan anggota-anggota majelis rendah di negara bagaian ; Tasmania dan ACT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara sistem preperensial atau sistem distrik yang menganut sistem single-member constituencies dimana setiap anggota parlemen hanya memiliki satu daerah pemilihan, berlaku bagi pemilihan anggota majelis rendah federal (House of representatives), dan sebagain besar peerlemen negara bagian. Negara-negara bagian, seperti ; New South wales, Victorian Queensland, western australia, south australian dan teritori NT, menganut sistem ini untuk memilih anggota-anggota majelis rendahnya. Sistem ini dugunakan utnuk memilih anggota-anggota majelis tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Pemungutan Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sejak federalisme, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; telah mencoba beberapa metode pemungutan suara dalam setiap pemilu, baik ditingkat federal maupun dinegara bagian dan teritori. Penerapan metode-metode tersebut diterapkan secara demokratis oleh parlemen, yang umumnya didominasi oelh partai-partai utama, Partai Buruh dan Koalisi, Partai Liberal dan Partai Nasional. Penrapan metode-metode pemungutan suara, juga dilandasi keinginan dari masing-masing partai untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Dari metode yang diterapkan itu memperoleh kursi parlemen yang sebanyak-banyaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Secara umum, ada tiga metode pemungutasn suara yang diterapkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, yaitu sistem plurality, referensial dan perwakilan berimbang. Metode plurality atau yang dikenal dengansisten The First-Past-The Post, pernah diretapkan dengan pemilihan anggota majelis rendah federal hanya sampai 1918. Metode ini dipandang sebagai cara perhitungan suara yang sangat sederhana, dimana seorang calon yang memperoleh suara mayoritas secara otomatis terpilih menjadi anggota parlemen. Karena itu pula sistem tersebut dikenal juga dengan sebutan “Mayoritas sederhana”. Metode pemungutan prepensial dengan variasinya diterapkan diberbagai daerah pemilihan yang mengunakan single member constituencey. Anggota-anggota parlemen Australia yang dipilih melalui sistem ini adalah anggota majelis rendah federal, majelis rendah di negara-negara bagian New South Wales, Victoria, Queensland, South Australia, Tasmania, Teritori NT dan majelis tinggi negara bagian Victoria. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menurut Solomon&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sistem pemungutan suara preferensial yang diterapkan sejak 1919, cenderung dipakai untuk menggoyahkan Partai Buruh&lt;sup&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;. Metode ini diperkenalkan oleh penentang partai buruh untuk memajukan kepentingan mitra-mitranya dalam koalisi menentang Partai Buruh. Dalam pandangan mereka, terutama tokoh-tokoh Partai Liberal, sistem The Fisrt-past-The Post dapat lebih mengembangkan sistem dua partai, dimana kekehesian Partai Buruh akan selalu menguasai kursi mayoritas dalam parlemen federal. Partai Buruh, kemudian menghasilkan adanya kombinasi antara sistem The First-Past-The Post dengan sistem Preferensi yang disebut sebagai sistem optional preferential atau preferensial opsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode perwakilan berimbang dipakai untuk pertama kalinya dalam pemilihan senat federal pada 1949. Metode ini diadopsi dari pemilihan majelis Rendah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sudah dipakai sejak 1909.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Metode pemungutan suara dipandang lebih demokratis daripada sistem pemungutan suara lainnya, karena sistem ini lebih mencerminkan secara langsung keinginan rakyat dalam memilih wakil-wakil mereka.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dengan metode ini kelompok pemilih minoritas akan mampu memilih sejumlah minoritas wakilnya. Hasil yang penting dari penggunaan metode Perwakilan Berimbang ini adalah ia memberikan peluang bagi partai-partai kecil dan kelompok independen untuk memperoleh kursi diparlemen. Hal ini tercermin dari terwakilinya partai-partai kecil, seperti Partai Buruh Demokratis ( Democratic Labour Party- DLP ) dan Partai Demokrasi Australia ( Australian Democrat – AD ) dalam senat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Prosedur Perhitungan Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam prosedur perhitungan suara dari beberapa model pemungutan suara yang berlaku (dan atau yang pernah diberlakukan) di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Hal ini mencakup model-model pemungutan suara dalam sistem &lt;i style=""&gt;plurality&lt;/i&gt;, preferensial dan preferensial opsi, serta perwakilan berimbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Plurality &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Plurality atau the first-past-the post atau juga dikenal dengan sebutan “mayoritas sederhana”, sebagai sistem yang agak sederhana digunakan dalam pemilu-pemilu di Inggris, AS, Kanada, Selandia Baru, dan bahkan Afrika Selatan. Sejak 1902 sampai 1918, sistem ini dipakai di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk memilih anggota-anggota majelis rendah federal. Persyaratannya tidaklah sulit rumit, di mana pemilih hanya membubuhkan tanda “X” pada calon pilihannya, dan hasilnya segera dapat diketahui. Calon dengan suara terbanyak adalah pemenangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Preferensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; dua varian dalam sistem preferensial yaitu : preferensial dan preferensial opsi. Metode preferensial biasanya digunakan disemua daerah pemilihan yang menggunakan single member constituncy sedangkan metode preferensial opsi digunakan dibeberapa daerah yang mengunaka perwakilan single member, seperti di Majelis Tinggi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tasmania, dan majelis Rendah New South Wales; dah bahkan daerah yang menggunakan perwakilan multi-member, seperti pemilihan Majelis Tinggi New South Wales, Majelis Tinggi South Australia, dan majelis Rendah Tasmania.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Preferensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode ini berusaha menentang sistem mayoritas sederhana, yang dalam banyak kasus mengabaikan kepentingan suara mayoritas, sebagaimana yang terjadi dlaam perhitungan suara the first –past-the post. Tujuan diterpakannya metode ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi para pemilih pada suatu serial pemilihan : bila calon yang diinginkan pemilih hanya memperoleh jumlah suara kecil maka pemilih berkesempatan untuk membuat pilihan kedua dst. Metode ini memungkinkan calon-calon kurang dikenal dalam masyarakat dapat terpilih, sekalipun kurang disukai oleh sebagian besar pemilih.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal ini berbeda dengan sistem the first – past&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- the post, di mana hanya calon-calon yang populer yang sering terpilih. Oleh karena itu , metode ini mempunyai dua persyaratan. &lt;i style=""&gt;Pertama,&lt;/i&gt; calon harus memenangkan 50% + 1 suara pemilih untuk memenangkan pemilihan dan &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, para pemilih dipersyaratkan untuk memberikan preferensinya, dengan cara memberikan peringkat bagi semua calon yang ada, sesuai dengan keinginannya (preferensi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode Preferensial Opsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Metode perhitungan suara ini adalah pengembangan dalam metode preferensial. Metode ini merupakan Kebijakan Partai Buruh, yang kecewa dengan hasil pemilu di beberapa daerah pemilihan yang menggunakan metode preferensial. Tujuan Partai Buruh menerapkan yaitu untuk menutup kemungkinan bagi terpilihnya calon-calon dari partai lain, terutama dari saingan-saingan utamanya : Koalisi Partai Liberal dan Partai Nasional. Metode ini pernah digunakan beberapa kali dalam pemilu Majelis Rendah di Queensland, Westrn &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Victoria&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sekarang metode ini dipakai untuk memilih kedua majelis di &lt;st1:state st="on"&gt;New  South Wales&lt;/st1:State&gt; dan &lt;st1:state st="on"&gt;Tasmania&lt;/st1:State&gt;, serta majelis Tinggi South &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Semua persyaratan yang diperlukan sama saperti yang adala dalam metode prefernsi umum. Perbedaannya hanya satu, seorang pemilih dipersyaratkan untuk tidak membuat prefernsi kepada seluruh calon yang maju dalam pemilu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Perwakilan Berimbang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Perwakilan berimbang diterapkan pada daerah-daerah pemilihan yang menggunakan sistem multi-member constituency di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mana jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan ditetapkan berdasarkan aturan tertentu. Metode ini cenderung mewakili partai atau kelompok, dan bukan individu, dalam parlemen, berdasarkan proporsi suara yang diperolehnya dalam pemilu utnuk alasan tersebut metode ini sangat disukai oleh partai-partai kecil.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun meskipun demikian metode ini juga memiliki kekurangan yaitu : sistem ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat memisahkan anggota parlemen dari daerah pemilihannya, karena mereka terpilih berdasarkan daftar partainya dan sistem ini cenderung memperbesar kekuatan eksekutif negara bagian atas beban organisasi-organisasi lokal partai, karena penyeleksian anggota tim partai (calon yang diajukan) biasanya dilakukan oleh sentral organisasi partainya.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA POST SOEHARTO DI &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Masa transisi yang sedang di alami oleh pemerintah dan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sekarang ini menimbulkan berbagai masalah yang harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segera ditanggulangi. Kehendak untuk melakukan reformasi dan demokratisasi yang sangat kuatyang tidak di ikuti oleh kesadaran untuk melakukan reformasi yang tidak menciptakan krisis baru akan mengakibatkan reformasi itu seandiri menjadi sebuah masalah. Apalagi pada saat sekarang ini kita sedang mengalami “EUPHORIA”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik, karena terlepas dari belenggu kekangan politik yang diciptakan oleh rezim pemerintahan Soeharto, yang berlangsung selama tiga dekade lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pemerintahan Presiden Habibie adalah pemerintahan yang sangat rapuh, karena legitimasi kekuasaan kepresidenan Habibie dipermasalahkan oleh sementara kalangan, terutama mereka yang tidak senang dengan kehadiran Habibie dalam panggung politik nasional. Di samping itu, masyarakat masih menunggu, apakah pemerintahan Habibie msmpu mengatasi masalah ekonomi yang sudah tinggal puing-puingnya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Untuk mengatasi krisis legitimasi kekuasaan itu, banyak kalangan yang menghendaki diadakannya pemilihan umum secepatnya. Nampaknya, mereka menyadari betapa kompleks permasalahan yang di hadapi dalam mempersiapkan sebuah pemilihan umum, terutama yang menyangkut sejumlah peraturan perundangan, yang merupakan produk pemerintah Soeharta, yang dianggap tidak memiliki elemen demokrasi yang kuat, bahkan mengandung elemen otoritarianisme.Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: Bagamana menyelenggarakan pemilihan umum secepatnya kalau perangkat peraturan lama tersebut masih berlaku dan belum diganti dengan peraturan penyelenggaraan yang baru, yang sesuai dengan semangat dan jiwa demokratisasi dan akan menjadi landasan kehidupan demokrasi politik dimasa sekarang dan masa – masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PARAMETER PEMILIHAN UMUM YANG AKAN DATANG &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; beberapa yang dijadikan parameter bagi pemilihan umum 1999,&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pertama, Pemilihan Umum yang akan datang haruslah diselenggarakan dengan cara yang demokratik, sehingga memberi peluang bagi semua partai dan caleg (calon legislative) yang terlibat untuk berkompetisi secara fair dan jujur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kedua, Pemilihan Umum yang akan datang haruslah menciptakan MPR atau DPR, DPRD Tingkat I, DPRD Tingkat II yang lebih baik, lebih mandiri dan memiliki akon-tabilitas politik yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ketiga, derajat keterwakilan. Maksudnya,bahwa anggota MPR/DPR yang akan dibentuk melalui Pemilihan Umum yang akan datang haruslah memeiliki keseimbangan perwakilan, baik antara wakil masyarakat di Jawa ataupun diluar Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Keempat, Tuntas. Artinya, UU Pemilihan Umum yang akan datang haruslah bersifat menyeluruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SISTEM PEMILU : PROPORSIONAL REPRESENTATION VERSUS SISTEM DISTRIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam ilmu politik, sistem pemilihan umum diartikan sebagai satu kumpulan metode atau cara warga masyarakat memilih para wakil mereka (Lijphart, 1995). Hal-hal yang sangat perlu mendapat perhatian dalam pemilihan adalah apa yang disebut sebagai “&lt;i style=""&gt;electoral formula&lt;/i&gt;”, yaitu apakah akan menggunakan sistem pluralitas yang di Indonesia banyak disebut sebagai sistem distrik yang sebagian besar kalangan ilmuwan politik menyebutnya sebagai &lt;i style=""&gt;Plurality System&lt;/i&gt;, ataukah sistem &lt;i style=""&gt;proportional representation&lt;/i&gt; dengan berbagai macam variasinya, seperti misalnya sistem &lt;i style=""&gt;sisa terbanyak, single transferable vote, single non-transferable vote, d’Hondt Rule, sainte lague,&lt;/i&gt; dan lain-lain. Electoral formula menetukan alokasi kursi yang akan memberikan kepada masing-masing partai yang bersaing (Lijphart, 1984; 1985; Taagepera and Shugart, 1989). Sistem &lt;i style=""&gt;Proportional representation&lt;/i&gt; (PR) merupakan sistem pemilihan yang paling banyak dipergunakan oleh negara-negara yang pemilihan umumnya berlangsung secara demokratik dan kompetitif. Sistem ini memperlihatkan gejala yang sangat menarik, di mana proporsi kursi yang dimenangkan oleh sebuah partai politik dalam sebuah wilayah pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi suara yang diperoleh partai tersebut dalam pemilihannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem Pemilihan Umum di Australia menggunakan metode Sistem Preferensial dan Sistem Perwakilan Berimbang. Sistem Preferensial ada dua varian yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Preferensial, metode ini berusaha menentang sistem mayoritas sederhana, yang dalam banyak kasus mengabaikan kepentingan suara mayoritas, sebagaimana yang terjadi dlaam perhitungan suara the first –past-the post. Sedangkan preferensial opsi, metode perhitungan suara ini adalah pengembangan dalam metode preferensial. Metode ini merupakan Kebijakan Partai Buruh, yang kecewa dengan hasil pemilu di beberapa daerah pemilihan yang menggunakan metode preferensial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dan sistem Pemilihan Umum di Indonesia menggunakan Proportional Representation System dan Plurality System (SD). Jika dibandingkan kedua sistem pemilihan ini menjadi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;PR   System&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Plurality   System(SD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;1.Peranan   Partai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kuat   sekali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sangat   Lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2.Distorsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;3.Kedekatan   calon dgn pemilih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;4.Akontabilitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 23.35pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;5.Money   Politics&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt; height: 23.35pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;6.Kualitas   Legislatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sama   &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Dengan&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;SD&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 159.6pt;" valign="top" width="213"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sama   dengan PR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; David Solomon, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Australia&lt;/i&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i style=""&gt;’s Government and parliament&lt;/i&gt; (edisi ke 7: &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Melbourne&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Nelson.1988) halm 134.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Scott Bennett, &lt;i style=""&gt;Affairs of State: Politics In The Australian State and Terrirtories&lt;/i&gt; ( Sydney Allen and Unwin, 1992) halm 156.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Solomon.op.cit hal 136.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Solomo Op.Cit hal 34&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Don Aikin, Brian Jinks, John Warhurst, Australian Political Institution ( edisi Ke-4; Melbourne; Longman Cheshire, 1989), hal. 1150.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Aitkin, Jinks,Warhurst, &lt;i style=""&gt;Ibid&lt;/i&gt;, hal 151&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Saya memperkirakan, pemilihan umum yang akan datang akan diselenggarakan paling cepat pertengahan 1999. Karena sidang umum Istimewa MPR untuk membicarakan Tap MPR tentang pemilihan umum sudah diputuskan pada akhir Desember 1998, atau awal 1999. Mengingat penyiapan perangkat UU dan kelengkapan administrasi dibutuhkan waktu, maka sangat logis kalau diperkirakan Pemilihan Umum yang akan datang berlangsung pada pertengahan 1999.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222543039276740097-2324179651232297103?l=suzana-zee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzana-zee.blogspot.com/feeds/2324179651232297103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222543039276740097&amp;postID=2324179651232297103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/2324179651232297103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/2324179651232297103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzana-zee.blogspot.com/2008/05/perbandingan-politik_08.html' title='PERBANDINGAN POLITIK'/><author><name>suzana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01075528895967983449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222543039276740097.post-1623543677819919010</id><published>2007-11-19T08:16:00.001-08:00</published><updated>2007-11-19T08:19:38.316-08:00</updated><title type='text'>PKC menolak jalan reformasi politik</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Partai Komunis China (PKC) Menolak Jalan Reformasi Politik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pada Kongres Partai Komunis China atau yang sering disebut PKC yang ke- 17 di Balaiurang Kongres Rakyat Beijing, Presiden Republik Rakyat China Hu  Jintao membuat laporan politik berjudul “ Menjunjung Tinggi Panji Akbar Sosialisme Khas Tiongkok, berjuang demi teraihnya kemenangan baru pembangunan menyeluruh masyarakat sehat”.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Di dalam laporan tersebut, Hu Jintao menyatakan, tema utama kongres kali ini yakni: Menjunjung tinggi panji akbar sosialisme khas tiongkok, dengan teori Deng Xiaoping dan pemikiran “Tiga Perwakilan” sebagai penuntun, secara mendalam dan dengan tuntas melaksanakan konsep perkembangan ilmiah, melanjutkan pembebasan pikiran, mempertahankan keterbukan dan reformasi, mendorong perkembangan teknologi, memajukan masyarakat harmonis, berjuang demi teraihnya kemenangan baru pembangunan menyeluruh masyarakat sehat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Jikalau kita hapus frase-frase indah di dalam laporan tersebut, dapat dengan jelas terlihat, laporan Hu Jintao tersebut minimal telah memberitakan informasi kepada khalayak yang membuat  orang bermuram durja sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di  dalam ideology tetap mempertahankan Marxisme, Leninisme, pemikiran  Mao Zedong dan teori Deng Xiaoping&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di  dalam system pemerintahan tetap saja mempertahankan sosialisme  kediktatoran satu partai&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di  dalam ekonomi bertahan menjalankan kapitalisme kaum penguasa korup,  agar penerima keuntungan dapat meneruskan menikmati manfaat yang  diperoleh dari kediktatoran satu partai&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Mempertahankan  pengontrolan atas pemikiran, pemblokiran informasi dan pembungkaman  kebebasan berpendapat.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Singkatnya dapat di simpulkan ialah: Mempertahankan politik  represif kediktatoran yang tak tergoyahkan yang disebut  dengan “Pembangunan ilmiah, kebebasan berfikir, reformasi keterbukaan, masyarakat harmonis dan banyak hal lainnya, semuanya adalah slogan indah yang mendustai orang”. Kongres ke-17 yang begitu didambakan mendatangkan harapan oleh masyarakat, namun tak kunjung nyata adanya. Dengan beribu-ribu birokrat PKC yang berjejal dalam satu ruangan di Beijing, selain telah memboroskan biaya pembayaran pajak (rakyat), apapun tidak dilakukan, laporan Hu Jintao yang berdurasi 2 jam seluruhnya adalah slogan kosong yang senantiasa diulang-ulang selama ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Mengapa tidak memanfaatkan kongres ke-17 sebagai penggerak reformasi politik?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sebelum kongres ke-17 dimulai, banyak orang menaruh harapan sangat besar terhadapnya, mendoakan Hu dan Wen di kongres ke-17 ini tidak mengecewakan harapan khalayak, menggerakkan reformasi politik, mengembalikan hak politik kepada rakyat  dan menuju demokrasi. Misalnya, pada tanggal  7 dan 8 September, Du Daozheng, mantan kepala penerbitan kantor berita Negara, pergi ke Hongkong berpidato dengan tema: “ Mengenai problema demokrasi sosialisme”. Du Daozheng dalam berbagai forum selalu mendendangkan kata demi kata pernyataan Perdana Menteri Wen Jiabao: “Segala kekuasaan pemerintah, adalah dianugerahkan oleh rakyat”, “Demokrasi, tata hukum, kebebasan, hak azasi, kesetaraan, kasih, bukanlah monopoli kaum kapitalis, ini adalah hasil peradaban yang terbentuk dari kebersamaan didalam proses sejarah amat panjang di seluruh dunia”, “Pertama-tama harus mulai ditangani dari sistemnya, karena penyebab terjadinya korupsi datang dari berbagai aspek, diantaranya yang terpenting adalah kekuasaan yang terlalu sentralistik, sekaligus tidak bisa memperoleh pembatasan dan pengontrolan yang efektif.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kita harus menuntaskan dua tugas besar, mendorong maju dua reformasi besar”.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Yang dimaksudkan dengan dua reformasi besar oleh Wen Jiabao, salah satu diantaranya ialah: Reformasi system politik yang berdasarkan tujuan pengembangan politik demokrasi. Kaum intelektual rakyat menilai positif pidato dari Du Daozheng tersebut, disatu pihak menyatakan pengakuan terhadap isi perkataan Wen, dipihak lain adalah menunjukan menaruh harapan besar terhadap kongres ke-17.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Namun Hu dan Wen masih saja membuat orang kecewa,di dalam kongres ke-17 tidak ditampilkan gejala reformasi politik, jalan kediktatoran masih akan dilanjutkan terus, sampai dengan rakyat tidak bisa mentolerirnya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Barangkali, Hu dan Wen bukan tidak menghendaki reformasi politik, akan tetapi, ketika mereka dihadapkan dengan realita rakyat Tiongkok yang menghendaki reformasi, mereka menemukan tidak mampu lagi melakukan hal ini. Beberapa puluh tahun belakangan ini, hutang PKC terhadap rakyat Tiongkok di dalam berbagai bidang: politik, ekonomi, kebudayaan dll, mereka sudah tidak mampu lagi membayarnya, mereka akan menghadapi nasib saat diadakan perhitungan (pembalasan) setelah turun panggung (tidak menjabat) nanti, dalam hal ini, tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Reformasi PKC selama 20 tahun lebih ini yang dilalui ialah sebuah jalan kapitalisme kaum penguasa. Dewasa ini diseluruh negeri tidak ada unit pemerintahan yang tahu adat, bagaikan kesurupan meraup uang rakyat jelata, sejumlah besar rakyat lapis bawah telah menjadi pelengkap penderitaan dari kebijakan reformasi. Reformasi perumahan, reformasi pendidikan dan reformasi pengobatan yang diketahui khalayak telah berubah menjadi tiga gunung besar baru yang menindih di atas kepala orang Tiongkok. Pengeluaran kebutuhan hidup rakyat negeri Tiongkok dibandingkan dengan GDPnya menempati urutan pertama dari belakang.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Apabila begitu menggerakkan reformasi politik, problema-problema tersebut sudah harus dibenahi, PKC akan berhadapan dengan nasib turun panggung, hak istimewa yang mereka miliki sekarang semuanya akan terlepas, Tiongkok akan benar-benar melaksanakan pengembalian perpolitikan kepada rakyat. Jikalau mencermati sejenak opini di Tiongkok dewasa ini, bisa terlihat dengan jelas, dunia perpolitikan Tiongkok tidak ada lagi yang bisa dibangga-banggakan. Para penulis PKC sedang memeras otak, telah memformulasikan apa yang disebut “Delapan Macam Cara Penyebutan Baru” dari laporan kongres ke-17, dianalisa secara  teliti, kata per katanya ialah dusta yang sudah sering diulang-ulang, misalnya saja:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Penyebutan  sosialisme kas Tiongkok, dari “Pembangunan” dirubah menjadi  “Perkembangan”;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Menapaki  di atas fondasi “Jalan sosialisme khas Tiongkok” disebut “Lima  Jalur Jalan Konkret”;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di  atas fondasi, yang semula disebut empat pembaharuan, dirubah dan  ditambahkan satu buah menjadi pembaharuan ke 5 yakni “Pembaharuan  Informasi”;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Ekonomii  rakyat dari semula disebut “Peningkatan” dirubah menjadi  “Perkembangan”; dll.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Permasalahan Tiongkok tidak bisa lagi mengandalkan hanya diselesaikan oleh PKC, kehidupan lapisan tertinggi kepemimpinan PKC juga mengandalkan mengulur waktu dan dusta, sebisa mungkin menunda waktu satu hari demi satu hari. Juga tak bisa mengandalkan yang disebut “Saling bergerak” antara PKC dan rakyat, karena pada dasarnya saling-bergerak ini tidak ada. Kesaling-bergerakan ini sedikit banyak ditegakkan di atas landasan kemanusiaan dan nurani yang masih tersisa dari para birokrat yang pada saat ini sudah tidak eksis lagi. Rakyat menghendaki perhitungan, para birokrat bagaikan orang kalap yang menggenggam erat kepentingan dan tak rela melepasnya, diantara mereka tidak ada lagi titik temu.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Penyelesaian permasalahan Tiongkok, mengandalkan kematangan dan pertumbuhan kekuatan rakyat, mengandalkan ketergugahan dari seluruh rakyat, mengandalkan NGO (LSM) yang saat ini kelompok independent di luar pemerintahan ini ditekan oleh PKC. Dilihat dari situasi dewasa ini, Tiongkok masih sangat memiliki harapan, harapan ini tidak berasal dari PKC sang penguasa, melainkan berasal dari rakyat itu sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pada “4 Juni” lalu (tahun ini), sebanyak 2,913 petani membela hak-haknya atas tanah dari kota Fu Jin di propinsi Heilongjiang, menggunakan nama asli mereka membubuhkan tanda tangan di internet, menyerukan “Olimpiade NO, HAM YES!”. Penggerak aksi tersebut, Yang Chunlin meskipun dalam “Kurungan Terpaku” tapi dengan teguh tidak tunduk kepada kekuasaan jahat. Sesudah itu,para penduduk dari berbagai daerah di China bersahutan secara terbuka, sampai suatu ketika pada bulan Agustus tahun ini hitungan mundur Olimpiade mulai dijalankan,obor HAM Estafet Global disulut di Yunani, di-estafetkan di seluruh dunia, kegiatan HAM seluruh negeri yang bersemangat ini, barulah harapan sejati masa depan Tiongkok.&lt;sub&gt;     &lt;/sub&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.epochtimes.com/b5/7/10/23/n1876923.htm"&gt;&lt;sub&gt;http://www.epochtimes.com/b5/7/10/23/n1876923.htm&lt;/sub&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222543039276740097-1623543677819919010?l=suzana-zee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzana-zee.blogspot.com/feeds/1623543677819919010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222543039276740097&amp;postID=1623543677819919010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/1623543677819919010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/1623543677819919010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzana-zee.blogspot.com/2007/11/pkc-menolak-jalan-reformasi-politik.html' title='PKC menolak jalan reformasi politik'/><author><name>suzana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01075528895967983449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222543039276740097.post-2442755395267377258</id><published>2007-09-23T02:59:00.000-07:00</published><updated>2007-09-23T03:00:07.992-07:00</updated><title type='text'>DINASTI SHANG</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;DINASTI SHANG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Shang (1600 – 1046 SM ) adalah dinasti yang menggantikan Dinasti Xia dalam sejarah Tiongkok. Dinasti pertama zaman kuno Tiongkok yang dapat dibuktikan secara kuat oleh data arkeologi adalah Dinasti Shang. Sekitar tahun 1600 SM, Dinasti Shang didirikan oleh pemimpin suku Shang. Raja Tang dari Shang alias Cheng Tang adalah pendiri dan raja pertama Dinasti Shang. Ia terlahir dengan nama Zi Lu. Setelah menggulingkan raja Jie dari Xia, ia mendirikan Dinasti Shang yang menguasai Tiongkok lebih dari lima abad.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Cheng Tang mulanya adalah seorang kepala suku Shang yang merupakan suku terkuat di bagian timur Tiongkok meskipun masih berstatus vassal Dinasti Xia. Mereka mendiami sekitar wilayah Propinsi Henan dan Shandong di hilir Sungai Kuning. Cheng tang adalah seorang pemimpin yang berpandangan jauh ke depan. Melihat situasi negara saat itu yang diperintah oleh Raja Jie yang tiran, timbullah niatnya untuk menumbangkan Dinasti Xia. Pada awalnya suku Shang ber-ibukota di Bo ( Shangqiu ) propinsi Henan, setelah mengalahkan  Dinasti Xia, memindahkan ibukota ke barat dan tetap disebut dengan nama Bo ( Yansi ) propinsi Henan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Setelah naik takhta, Tang memerintah dengan bijaksana terhadap rakyatnya, dengan bantuan dari menteri-menteri berbakat seperti Yiyin dan Zhongyuan, negara semakin kuat dan makmur. Selama pemerintahannya, Tang memerintah dengan baik. Ia menurunkan pajak, memajukan produksi, dan memakmurkan rakyatnya. Pengaruhnya menyebar dengan cepat di wilayah Sungai Kuning banyak kepala suku yang mengabdi kepadanya sebagai vassal. Ia wafat tahun 1588 SM dan digantikan oleh putranya, Taiding. Oleh karena putra sulungnya Taiding mati muda, maka singgasana di wariskan kepada adik Taiding, Waibing ; setelah Waibing meninggal, digantikan oleh adiknya Zhongren ; dan setelah Zhongren meninggal, singgasana diwariskan kembali kepada putra dari Dading, Taijia. Tahun ketiga pemerintahan Taijia, oleh karena memerintah dengan tidak benar dan tidak bermoral, Taijia diasungkan oleh Yiyin ke istana Tonggong. Setelah tiga tahun tinggal di istana Tonggong, Taijia merasa sangat menyesal, sehingga akhirnya Yiyin menjemput dan menyerahkan kembali kekuasaan kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Pada mulanya, Dinasti Shang beberapa kali memindahkan ibukotanya, sampai terakhir pada masa pemerintah Pangeng, menetapkan ibukota di Yin ( Anyang ) propinsi Henan, sehingga Dinasti Shang sering juga disebut Dinasti Yin. Setelah Pangeng memindahkan ibukota ke Yin, ekonomi masyarakat Dinasti Shang mengalami perkembangan lebih maju lagi. Sampai kemudian masa pemerintahan Wuding, Dinasti Shang melakukan banyak serangan ekpansi, menaklukan banyak negara kecil disekitarnya, memperluas wilayah teritorialnya, sehingga Dinasti Shang mencapai puncak kejayaanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Setelah Wuding meninggal, Dinasti Shang mulai mundur dan melemah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Raja terakhir Dinasti shang, Dixin atau Zhouwang berhasil memajukan hubungan perekonomian dan kebudayaan dengan membuka hubungan dengan Tiongkok bagian tenggara, perairan Sungai Huaihe dan Changjiang, tetapi karena selalu terlibat dalam peperangan dan membangun istana dalam skala besar, yang sangat menguras dan menghabiskan sumber daya manusia maupun kekayaan rakyat, sehingga menimbulkan kekecewaan dalam hati rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Wilayah Kekuasaan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Daerah kekuasaan Dinasti Shang :&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Timur  : mencapai lautan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; text-indent: -1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; Barat : mencapai bagian barat propinsi shanxi, timur laut mencapai  propinsi Liaoning  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; text-indent: -1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; Selatan : sekitar Jiangnan ( tidak termasuk propinsi Sichuan,Yunnan,       Guizhou dan daerah sekitar barat daya )&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; text-indent: -1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Daerah pemerintahan utama masih di sekitar Zhongyuan. Mendirikan ibukota di Bo, sekarang kabupaten Caoxian propinsi Shandong, dan beberapa kali pindah ibukota, terakhir Pangeng memindahkan ibukota ke Yin, sekarang Desa Xiaotuncun, Anyang propinsi Henan, dan oleh karena itu, maka Dinasti Shnag sering juga disebut sebagai Dinasti Yin.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pemerintahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dinasti Shang  menetapkan beberapa struktur kenegaraan yang lebih sempurna. Pemerintah pusat membentuk dua departemen penting yaitu departemen sekretariat urusan negara dan departemen tata hukum negara. Daerah–daerah diserahkan kepada bangsawan, guna memperkuat pemerintahan didaerah, dan masih banyak pejabat dan pengawal istana. Sedangkan kekuasaan militer dan peralatan perang tetap ditangan keluarga kerajaan langsung, para negarawan juga menetapkan Xingfa ( hukuman ) dan Jianyu ( penjara ) yang sangat kejam. Selain itu, juga menggunakan kepercayaan agama untuk memperkokoh kekuasaan pemerintah, raja Dinasti Shang bahkan menyebut diri sendiri sebagai wakil dari Tuhan didunia ini, menggabungkan kekuasaan ketuhanan dan kekuasaan kerajaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Kondisi Ekonomi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pertanian Dinasti Shang sudah lebih maju, berbagai jenis tanaman diciptakan menjadi arak, sanggup menciptakan peralatan perunggu yang lebih rapi dan bagus serta sudah bisa membuat keramik putih atau porselin. Oleh karena berkembangnya pertukaran barang, sehingga muncul kota pada awal peradaban manusia, dan merupakan kerajaan yang sangat makmur pada waktu itu. Oleh karena perdagangan DinastiShang sangat maju, hubungan dagang dengan negara disekitarnya juga sangat banyak, sebutan pedagang dalam bahasa Tiongkok, Shangren ( pedagang ), adal;ah berasal dari sebutan orang–orang di negara sekitarnya terhadap orang dari Dinasti Shang. Pertanian adalah bagian paling penting dalam bidang ekonomi, tanah pertanian lebih tertata dan teratur, Jenis pertanian juga lebih banyak. Usaha pertenunan juga mengalami perkembangan dan perternakan yang sangat makmur.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="es-PE"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="es-PE"&gt; &lt;b&gt;Kebudayaan dan ilmu pengetahuan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="es-PE"&gt;Pada Zaman Dinasti Shang, mulai dikembangkan kemampuan kerajinan besi, kerajinan keramik dan porselin, perdagangan juga sangat pesat. Dari hasil penemuan tulang ramalan ( jiaguwen )membuktikan perkembangan tulisan pada masa Dinasti Shang sudah mengalami suatu masa perkembangan yang cukup lama. Hasil arkeologi membuktikan bahwa pada masa awal Dinasti Shang, peradaban Tiongkok sudah berkembang sampai taraf yang cukup tinggi dengan ditandai oleh aksara yang diukir pada tempurung kura–kura atau tulang binatang serta kebudayaan perunggu. Aksara pada tempurung kura-kura atau tulang itu ditemukan dengan sangat kebetulan. Penemuan itu terjadi di sebuah Desa Xiaotun sebelah barat laut yang terletak di propinsi Henan pada awal abad ke-20, dari seorang petani yang menjual tempurung kura-kura dan tulang binatang yang secara kebetulan sebagai bahan obat tradisional Tiongkok. Tak lama kemudian, para ahli aksara kuno Tiongkok memastikan aksara yang terukir diatas tempurung kura-kura dan tulang itu adalah huruf Dinasti Shang, dan memastikan Desa Xiatoun  sebagai Yinxi, Peninggalan puing bekas tempat kedudukan ibukota Dinasti Shang yang disebut-sebut dalam buku zaman kuno.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="es-PE"&gt;Penemuan dan penggalian Yinxi adalah penemuan arkeologi yang terpenting pada abad ke-20 di Tiongkok. Pada Dinasti shang, raja akan menujumkan baik buruknya sebelum melakukan sesuatu. Tempurung kura-kura dan tulang  binatang adalah alat nujum. Hasil penggalian arkeologi dan penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pada masa Dinasti Shang, negara sudah terbentuk dan sistem hak milik swasta juga sudah ditegakkan pada pokoknya. Sejak itu, sejarah Tiongkok memasuki zaman peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="es-PE"&gt; Masa Yin ( persetengahan terkahir dari Dinasti Shang ), meninggalkan sejumlah catatan bersejarah yang mengandung keterangan mengenai politik, ekonomi, budaya, agama, ilmu bumi, ilmu kalam, penanggalan, seni dan pengobatan pada masa itu, dan demikian memberikan sudut pandang yang terpenting sehubungan dengan tahap awal peradaban Tionghoa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; text-indent: -1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-PE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-PE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222543039276740097-2442755395267377258?l=suzana-zee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzana-zee.blogspot.com/feeds/2442755395267377258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222543039276740097&amp;postID=2442755395267377258' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/2442755395267377258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222543039276740097/posts/default/2442755395267377258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzana-zee.blogspot.com/2007/09/dinasti-shang.html' title='DINASTI SHANG'/><author><name>suzana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01075528895967983449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
