Senin, 19 November 2007

PKC menolak jalan reformasi politik

Partai Komunis China (PKC) Menolak Jalan Reformasi Politik


Pada Kongres Partai Komunis China atau yang sering disebut PKC yang ke- 17 di Balaiurang Kongres Rakyat Beijing, Presiden Republik Rakyat China Hu Jintao membuat laporan politik berjudul “ Menjunjung Tinggi Panji Akbar Sosialisme Khas Tiongkok, berjuang demi teraihnya kemenangan baru pembangunan menyeluruh masyarakat sehat”.

Di dalam laporan tersebut, Hu Jintao menyatakan, tema utama kongres kali ini yakni: Menjunjung tinggi panji akbar sosialisme khas tiongkok, dengan teori Deng Xiaoping dan pemikiran “Tiga Perwakilan” sebagai penuntun, secara mendalam dan dengan tuntas melaksanakan konsep perkembangan ilmiah, melanjutkan pembebasan pikiran, mempertahankan keterbukan dan reformasi, mendorong perkembangan teknologi, memajukan masyarakat harmonis, berjuang demi teraihnya kemenangan baru pembangunan menyeluruh masyarakat sehat.

Jikalau kita hapus frase-frase indah di dalam laporan tersebut, dapat dengan jelas terlihat, laporan Hu Jintao tersebut minimal telah memberitakan informasi kepada khalayak yang membuat orang bermuram durja sebagai berikut:

  1. Di dalam ideology tetap mempertahankan Marxisme, Leninisme, pemikiran Mao Zedong dan teori Deng Xiaoping

  2. Di dalam system pemerintahan tetap saja mempertahankan sosialisme kediktatoran satu partai

  3. Di dalam ekonomi bertahan menjalankan kapitalisme kaum penguasa korup, agar penerima keuntungan dapat meneruskan menikmati manfaat yang diperoleh dari kediktatoran satu partai

  4. Mempertahankan pengontrolan atas pemikiran, pemblokiran informasi dan pembungkaman kebebasan berpendapat.

Singkatnya dapat di simpulkan ialah: Mempertahankan politik represif kediktatoran yang tak tergoyahkan yang disebut dengan “Pembangunan ilmiah, kebebasan berfikir, reformasi keterbukaan, masyarakat harmonis dan banyak hal lainnya, semuanya adalah slogan indah yang mendustai orang”. Kongres ke-17 yang begitu didambakan mendatangkan harapan oleh masyarakat, namun tak kunjung nyata adanya. Dengan beribu-ribu birokrat PKC yang berjejal dalam satu ruangan di Beijing, selain telah memboroskan biaya pembayaran pajak (rakyat), apapun tidak dilakukan, laporan Hu Jintao yang berdurasi 2 jam seluruhnya adalah slogan kosong yang senantiasa diulang-ulang selama ini.


Mengapa tidak memanfaatkan kongres ke-17 sebagai penggerak reformasi politik?

Sebelum kongres ke-17 dimulai, banyak orang menaruh harapan sangat besar terhadapnya, mendoakan Hu dan Wen di kongres ke-17 ini tidak mengecewakan harapan khalayak, menggerakkan reformasi politik, mengembalikan hak politik kepada rakyat dan menuju demokrasi. Misalnya, pada tanggal 7 dan 8 September, Du Daozheng, mantan kepala penerbitan kantor berita Negara, pergi ke Hongkong berpidato dengan tema: “ Mengenai problema demokrasi sosialisme”. Du Daozheng dalam berbagai forum selalu mendendangkan kata demi kata pernyataan Perdana Menteri Wen Jiabao: “Segala kekuasaan pemerintah, adalah dianugerahkan oleh rakyat”, “Demokrasi, tata hukum, kebebasan, hak azasi, kesetaraan, kasih, bukanlah monopoli kaum kapitalis, ini adalah hasil peradaban yang terbentuk dari kebersamaan didalam proses sejarah amat panjang di seluruh dunia”, “Pertama-tama harus mulai ditangani dari sistemnya, karena penyebab terjadinya korupsi datang dari berbagai aspek, diantaranya yang terpenting adalah kekuasaan yang terlalu sentralistik, sekaligus tidak bisa memperoleh pembatasan dan pengontrolan yang efektif.”

“Kita harus menuntaskan dua tugas besar, mendorong maju dua reformasi besar”.

Yang dimaksudkan dengan dua reformasi besar oleh Wen Jiabao, salah satu diantaranya ialah: Reformasi system politik yang berdasarkan tujuan pengembangan politik demokrasi. Kaum intelektual rakyat menilai positif pidato dari Du Daozheng tersebut, disatu pihak menyatakan pengakuan terhadap isi perkataan Wen, dipihak lain adalah menunjukan menaruh harapan besar terhadap kongres ke-17.

Namun Hu dan Wen masih saja membuat orang kecewa,di dalam kongres ke-17 tidak ditampilkan gejala reformasi politik, jalan kediktatoran masih akan dilanjutkan terus, sampai dengan rakyat tidak bisa mentolerirnya lagi.

Barangkali, Hu dan Wen bukan tidak menghendaki reformasi politik, akan tetapi, ketika mereka dihadapkan dengan realita rakyat Tiongkok yang menghendaki reformasi, mereka menemukan tidak mampu lagi melakukan hal ini. Beberapa puluh tahun belakangan ini, hutang PKC terhadap rakyat Tiongkok di dalam berbagai bidang: politik, ekonomi, kebudayaan dll, mereka sudah tidak mampu lagi membayarnya, mereka akan menghadapi nasib saat diadakan perhitungan (pembalasan) setelah turun panggung (tidak menjabat) nanti, dalam hal ini, tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.

Reformasi PKC selama 20 tahun lebih ini yang dilalui ialah sebuah jalan kapitalisme kaum penguasa. Dewasa ini diseluruh negeri tidak ada unit pemerintahan yang tahu adat, bagaikan kesurupan meraup uang rakyat jelata, sejumlah besar rakyat lapis bawah telah menjadi pelengkap penderitaan dari kebijakan reformasi. Reformasi perumahan, reformasi pendidikan dan reformasi pengobatan yang diketahui khalayak telah berubah menjadi tiga gunung besar baru yang menindih di atas kepala orang Tiongkok. Pengeluaran kebutuhan hidup rakyat negeri Tiongkok dibandingkan dengan GDPnya menempati urutan pertama dari belakang.

Apabila begitu menggerakkan reformasi politik, problema-problema tersebut sudah harus dibenahi, PKC akan berhadapan dengan nasib turun panggung, hak istimewa yang mereka miliki sekarang semuanya akan terlepas, Tiongkok akan benar-benar melaksanakan pengembalian perpolitikan kepada rakyat. Jikalau mencermati sejenak opini di Tiongkok dewasa ini, bisa terlihat dengan jelas, dunia perpolitikan Tiongkok tidak ada lagi yang bisa dibangga-banggakan. Para penulis PKC sedang memeras otak, telah memformulasikan apa yang disebut “Delapan Macam Cara Penyebutan Baru” dari laporan kongres ke-17, dianalisa secara teliti, kata per katanya ialah dusta yang sudah sering diulang-ulang, misalnya saja:

  1. Penyebutan sosialisme kas Tiongkok, dari “Pembangunan” dirubah menjadi “Perkembangan”;

  2. Menapaki di atas fondasi “Jalan sosialisme khas Tiongkok” disebut “Lima Jalur Jalan Konkret”;

  3. Di atas fondasi, yang semula disebut empat pembaharuan, dirubah dan ditambahkan satu buah menjadi pembaharuan ke 5 yakni “Pembaharuan Informasi”;

  4. Ekonomii rakyat dari semula disebut “Peningkatan” dirubah menjadi “Perkembangan”; dll.

Permasalahan Tiongkok tidak bisa lagi mengandalkan hanya diselesaikan oleh PKC, kehidupan lapisan tertinggi kepemimpinan PKC juga mengandalkan mengulur waktu dan dusta, sebisa mungkin menunda waktu satu hari demi satu hari. Juga tak bisa mengandalkan yang disebut “Saling bergerak” antara PKC dan rakyat, karena pada dasarnya saling-bergerak ini tidak ada. Kesaling-bergerakan ini sedikit banyak ditegakkan di atas landasan kemanusiaan dan nurani yang masih tersisa dari para birokrat yang pada saat ini sudah tidak eksis lagi. Rakyat menghendaki perhitungan, para birokrat bagaikan orang kalap yang menggenggam erat kepentingan dan tak rela melepasnya, diantara mereka tidak ada lagi titik temu.

Penyelesaian permasalahan Tiongkok, mengandalkan kematangan dan pertumbuhan kekuatan rakyat, mengandalkan ketergugahan dari seluruh rakyat, mengandalkan NGO (LSM) yang saat ini kelompok independent di luar pemerintahan ini ditekan oleh PKC. Dilihat dari situasi dewasa ini, Tiongkok masih sangat memiliki harapan, harapan ini tidak berasal dari PKC sang penguasa, melainkan berasal dari rakyat itu sendiri.

Pada “4 Juni” lalu (tahun ini), sebanyak 2,913 petani membela hak-haknya atas tanah dari kota Fu Jin di propinsi Heilongjiang, menggunakan nama asli mereka membubuhkan tanda tangan di internet, menyerukan “Olimpiade NO, HAM YES!”. Penggerak aksi tersebut, Yang Chunlin meskipun dalam “Kurungan Terpaku” tapi dengan teguh tidak tunduk kepada kekuasaan jahat. Sesudah itu,para penduduk dari berbagai daerah di China bersahutan secara terbuka, sampai suatu ketika pada bulan Agustus tahun ini hitungan mundur Olimpiade mulai dijalankan,obor HAM Estafet Global disulut di Yunani, di-estafetkan di seluruh dunia, kegiatan HAM seluruh negeri yang bersemangat ini, barulah harapan sejati masa depan Tiongkok. http://www.epochtimes.com/b5/7/10/23/n1876923.htm




Minggu, 23 September 2007

DINASTI SHANG

DINASTI SHANG


Dinasti Shang (1600 – 1046 SM ) adalah dinasti yang menggantikan Dinasti Xia dalam sejarah Tiongkok. Dinasti pertama zaman kuno Tiongkok yang dapat dibuktikan secara kuat oleh data arkeologi adalah Dinasti Shang. Sekitar tahun 1600 SM, Dinasti Shang didirikan oleh pemimpin suku Shang. Raja Tang dari Shang alias Cheng Tang adalah pendiri dan raja pertama Dinasti Shang. Ia terlahir dengan nama Zi Lu. Setelah menggulingkan raja Jie dari Xia, ia mendirikan Dinasti Shang yang menguasai Tiongkok lebih dari lima abad.

Cheng Tang mulanya adalah seorang kepala suku Shang yang merupakan suku terkuat di bagian timur Tiongkok meskipun masih berstatus vassal Dinasti Xia. Mereka mendiami sekitar wilayah Propinsi Henan dan Shandong di hilir Sungai Kuning. Cheng tang adalah seorang pemimpin yang berpandangan jauh ke depan. Melihat situasi negara saat itu yang diperintah oleh Raja Jie yang tiran, timbullah niatnya untuk menumbangkan Dinasti Xia. Pada awalnya suku Shang ber-ibukota di Bo ( Shangqiu ) propinsi Henan, setelah mengalahkan Dinasti Xia, memindahkan ibukota ke barat dan tetap disebut dengan nama Bo ( Yansi ) propinsi Henan.

Setelah naik takhta, Tang memerintah dengan bijaksana terhadap rakyatnya, dengan bantuan dari menteri-menteri berbakat seperti Yiyin dan Zhongyuan, negara semakin kuat dan makmur. Selama pemerintahannya, Tang memerintah dengan baik. Ia menurunkan pajak, memajukan produksi, dan memakmurkan rakyatnya. Pengaruhnya menyebar dengan cepat di wilayah Sungai Kuning banyak kepala suku yang mengabdi kepadanya sebagai vassal. Ia wafat tahun 1588 SM dan digantikan oleh putranya, Taiding. Oleh karena putra sulungnya Taiding mati muda, maka singgasana di wariskan kepada adik Taiding, Waibing ; setelah Waibing meninggal, digantikan oleh adiknya Zhongren ; dan setelah Zhongren meninggal, singgasana diwariskan kembali kepada putra dari Dading, Taijia. Tahun ketiga pemerintahan Taijia, oleh karena memerintah dengan tidak benar dan tidak bermoral, Taijia diasungkan oleh Yiyin ke istana Tonggong. Setelah tiga tahun tinggal di istana Tonggong, Taijia merasa sangat menyesal, sehingga akhirnya Yiyin menjemput dan menyerahkan kembali kekuasaan kepadanya.

Pada mulanya, Dinasti Shang beberapa kali memindahkan ibukotanya, sampai terakhir pada masa pemerintah Pangeng, menetapkan ibukota di Yin ( Anyang ) propinsi Henan, sehingga Dinasti Shang sering juga disebut Dinasti Yin. Setelah Pangeng memindahkan ibukota ke Yin, ekonomi masyarakat Dinasti Shang mengalami perkembangan lebih maju lagi. Sampai kemudian masa pemerintahan Wuding, Dinasti Shang melakukan banyak serangan ekpansi, menaklukan banyak negara kecil disekitarnya, memperluas wilayah teritorialnya, sehingga Dinasti Shang mencapai puncak kejayaanya.

Setelah Wuding meninggal, Dinasti Shang mulai mundur dan melemah.

Raja terakhir Dinasti shang, Dixin atau Zhouwang berhasil memajukan hubungan perekonomian dan kebudayaan dengan membuka hubungan dengan Tiongkok bagian tenggara, perairan Sungai Huaihe dan Changjiang, tetapi karena selalu terlibat dalam peperangan dan membangun istana dalam skala besar, yang sangat menguras dan menghabiskan sumber daya manusia maupun kekayaan rakyat, sehingga menimbulkan kekecewaan dalam hati rakyat.


Wilayah Kekuasaan

Daerah kekuasaan Dinasti Shang :

Timur : mencapai lautan

Barat : mencapai bagian barat propinsi shanxi, timur laut mencapai propinsi Liaoning

Selatan : sekitar Jiangnan ( tidak termasuk propinsi Sichuan,Yunnan, Guizhou dan daerah sekitar barat daya )


Daerah pemerintahan utama masih di sekitar Zhongyuan. Mendirikan ibukota di Bo, sekarang kabupaten Caoxian propinsi Shandong, dan beberapa kali pindah ibukota, terakhir Pangeng memindahkan ibukota ke Yin, sekarang Desa Xiaotuncun, Anyang propinsi Henan, dan oleh karena itu, maka Dinasti Shnag sering juga disebut sebagai Dinasti Yin.


Pemerintahan

Dinasti Shang menetapkan beberapa struktur kenegaraan yang lebih sempurna. Pemerintah pusat membentuk dua departemen penting yaitu departemen sekretariat urusan negara dan departemen tata hukum negara. Daerah–daerah diserahkan kepada bangsawan, guna memperkuat pemerintahan didaerah, dan masih banyak pejabat dan pengawal istana. Sedangkan kekuasaan militer dan peralatan perang tetap ditangan keluarga kerajaan langsung, para negarawan juga menetapkan Xingfa ( hukuman ) dan Jianyu ( penjara ) yang sangat kejam. Selain itu, juga menggunakan kepercayaan agama untuk memperkokoh kekuasaan pemerintah, raja Dinasti Shang bahkan menyebut diri sendiri sebagai wakil dari Tuhan didunia ini, menggabungkan kekuasaan ketuhanan dan kekuasaan kerajaan.


Kondisi Ekonomi

Pertanian Dinasti Shang sudah lebih maju, berbagai jenis tanaman diciptakan menjadi arak, sanggup menciptakan peralatan perunggu yang lebih rapi dan bagus serta sudah bisa membuat keramik putih atau porselin. Oleh karena berkembangnya pertukaran barang, sehingga muncul kota pada awal peradaban manusia, dan merupakan kerajaan yang sangat makmur pada waktu itu. Oleh karena perdagangan DinastiShang sangat maju, hubungan dagang dengan negara disekitarnya juga sangat banyak, sebutan pedagang dalam bahasa Tiongkok, Shangren ( pedagang ), adal;ah berasal dari sebutan orang–orang di negara sekitarnya terhadap orang dari Dinasti Shang. Pertanian adalah bagian paling penting dalam bidang ekonomi, tanah pertanian lebih tertata dan teratur, Jenis pertanian juga lebih banyak. Usaha pertenunan juga mengalami perkembangan dan perternakan yang sangat makmur.

Kebudayaan dan ilmu pengetahuan

Pada Zaman Dinasti Shang, mulai dikembangkan kemampuan kerajinan besi, kerajinan keramik dan porselin, perdagangan juga sangat pesat. Dari hasil penemuan tulang ramalan ( jiaguwen )membuktikan perkembangan tulisan pada masa Dinasti Shang sudah mengalami suatu masa perkembangan yang cukup lama. Hasil arkeologi membuktikan bahwa pada masa awal Dinasti Shang, peradaban Tiongkok sudah berkembang sampai taraf yang cukup tinggi dengan ditandai oleh aksara yang diukir pada tempurung kura–kura atau tulang binatang serta kebudayaan perunggu. Aksara pada tempurung kura-kura atau tulang itu ditemukan dengan sangat kebetulan. Penemuan itu terjadi di sebuah Desa Xiaotun sebelah barat laut yang terletak di propinsi Henan pada awal abad ke-20, dari seorang petani yang menjual tempurung kura-kura dan tulang binatang yang secara kebetulan sebagai bahan obat tradisional Tiongkok. Tak lama kemudian, para ahli aksara kuno Tiongkok memastikan aksara yang terukir diatas tempurung kura-kura dan tulang itu adalah huruf Dinasti Shang, dan memastikan Desa Xiatoun sebagai Yinxi, Peninggalan puing bekas tempat kedudukan ibukota Dinasti Shang yang disebut-sebut dalam buku zaman kuno.

Penemuan dan penggalian Yinxi adalah penemuan arkeologi yang terpenting pada abad ke-20 di Tiongkok. Pada Dinasti shang, raja akan menujumkan baik buruknya sebelum melakukan sesuatu. Tempurung kura-kura dan tulang binatang adalah alat nujum. Hasil penggalian arkeologi dan penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pada masa Dinasti Shang, negara sudah terbentuk dan sistem hak milik swasta juga sudah ditegakkan pada pokoknya. Sejak itu, sejarah Tiongkok memasuki zaman peradaban.

Masa Yin ( persetengahan terkahir dari Dinasti Shang ), meninggalkan sejumlah catatan bersejarah yang mengandung keterangan mengenai politik, ekonomi, budaya, agama, ilmu bumi, ilmu kalam, penanggalan, seni dan pengobatan pada masa itu, dan demikian memberikan sudut pandang yang terpenting sehubungan dengan tahap awal peradaban Tionghoa.